11.1.10

kehilangan..

Seharian kemarin saya begitu lesu.. ini disebabkan oleh berita berpulangnya seorang tetangga di rumah kontrakan lama saya. Ya.. saya tidak begitu akrab dengan beliau.. saya lebih akrab dengan Dik Damar anaknya. Seorang anak lelaki yang baru berumur 1 tahun waktu itu. Dik Damar mungkin satu-satunya anak yang berani main ke rumah saya tanpa paksaan. Mungkin karena saya sering memberinya biskuit, susu atau apa saja yang ada dirumah saya waktu dia main. Mmm dia suka sekali kerupuk hihi..

Pertama kali kami pindah Dik Damar memang masih malu-malu. Tapi setelah beberapa bulan, dia malah yang caper. Badannya yang mungil dan jalannya yang masih tertatih-tatih membuat dia masih harus digendong atau menggunakan sepeda dorong ketika main ke rumah. Ayah dik Damar sendiri jarang sekali terlihat. Mungkin karena kesibukan kami masing-masing. Belakangan aku baru tahu kalau beliau sering shift malam, dan baru pulang ketika kami brangkat kerja.

Beberapa bulan yang lalu setelah Hari Raya Idul Fitri, saya dikejutkan oleh berita kalau ayah Dik Damar baru saja menjalani operasi tumor di perut *tepatnya saya kurang paham*. Gejala awalnya seperti sakit maag biasa yang disertai mual dan perutnya mengeras. Memang Ayah Dik Damar punya penyakit maag, jadi dianggap itu maag biasa. Tapi ternyata setelah diobati beberapa lama, penyakitnya tidak kunjung sembuh, malah perutnya bertambah keras. Akhirnya diperiksalah beliau lebih teliti dan ternyata ditemukan tumor kecil diperutnya. Kondisinya mengharuskan beliau operasi beberapa kali -dua kali kalau tidak salah- perkiraan dokter semua tumor telah diangkat, dan bukan tumor ganas.

Sebelum pindah ke rumah yang sekarang, saya sempat menjenguk beliau. Kondisinya sungguh berbeda dengan terakhir kali saya bertemu sebelum beliau dioperasi -beliau dulu tinggi, besar- Sangat kurus.. tinggal tulang berbalut kulit saja.. Waktu itu walau saya prihatin dengan keadaanya, tapi saya juga cukup bersyukur, karena operasi berjalan lancar, dan Ayah Dik Damar sudah bisa berjalan, duduk walau masih tertatih-tatih. Dik Damar yang beberapa tidak bertemu dengan saya, kembali bersikap malu-malu, walau di akhir kunjungan saya dia sudah mulai akrab lagi..

Itulah pertemuan terakhir kami.. satu minggu kemudian, saya pindah ke rumah yang sekarang tanpa berpamitan dengan keluarga Dik Damar karena kebetulan waktu itu mereka sedang tidak ada di rumah selama beberapa hari untuk keperluan check up. Saya tidak mengira kalau ayah Dik Damar akan pergi secepat itu. Beliau masih sangat muda, di tambah lagi Dik Damar yang masih sangat kecil..

Ayah Dik Damar telah berpulang. Innalillahi wa innailaihirojiuun.. Semua makhluk pasti akan kembali padaNya, cepat atau lambat. Namun entah mengapa saya jadi lesu seharian. Melebihi lesunya ketika mendengar berita berpulangnya seorang pesohor di negeri ini..
Pikiran saya hanya bersliweran ke sana ke mari...
Ayah Dik Damar masih sangat muda...
Mbak Yuli hanya seorang Ibu Rumah tangga...
Dik Damar masih begitu kecil...

2 komentar:

Lina mengatakan...

Semoga beliau diterima di sisi Allah SWT. Semoga istri yang ditinggalkan diberi ketabahan dan kesabaran. Allah pasti tau yang terbaik untuk umatnya, Va.
ayo jangan lesu lagi.
nulis lagi.
aku suka baca tulisanmu

evana basri mengatakan...

woooo.. aku tuh yang ketagihan tulisanmu.. seru-seru!! ketoke apa aja bisa dadi bahan tulisan.. keren lin.. muach..