2.8.09

pak tua..

satu malam, di terminal bandung..
hari itu hujan, bis yang aku tunggu belum menampakkan dirinya..
aku menunggu di bawah atap terminal, melihat sekeliling.. dan akhirnya terhenti pada sesosok tubuh renta..
rambutnya sudah memutih, badannya hitam, kotor, sedang memakan sesuatu.. keripik talas rupanya.. berkali-kali aku meliriknya.. entah knapa. Lalu.. aku putuskan duduk di sebelahnya. Semua bangku penuh, dan sepertinya orang-orang enggan juga duduk di sebelahnya.

Aku melihatnya sekilas.. menengok lagi, lalu tersenyum padanya.. dia juga tersenyum.. wajahnya hitam, kotor. Bajunya juga. Dia memakan keripiknya, yang kulihat beberapa jatuh berceceran di bajunya. Dan menawari aku keripik talasnya. "diberi orang tadi." katanya. Aku mengiyakan saja. Tapi enggan mengambilnya. Aku menengok sesekali, dan dia masih kekeuh menawariku kripiknya sambil tersenyum. Matanya.. mata yang ramah. Entah kenapa aku merasa dia bukan orang tua uzur biasa. Ada kekuatan didalam tatapan matanya. Hangat dan menenangkan..
Kek.. dimana anakmu.. cucumu.. keluargamu..
Di usiamu yang renta ini.. mengapa masih saja kau keluyuran malam-malam, di hari hujan..
Aku tidak mendapat jawabannya.. dia masih saja asyik dengan keripik talasnya.. Lalu.. aku mengucapkan selamat tinggal padanya. Dia membalas dengan senyuman.

Dari balik kaca bis yang kunaiki, samar-samar masih terlihat sosoknya. Orang tua, berambut putih yang masih saja asyik dengan keripik talasnya...

-------
Teringat Mbah Kungku yang bahkan aku sendiri lupa seperti apa rautnya..
Semoga mendapat tempat terbaik di sisiNya..