16.9.08

turut berbela sungkawa

innalilahi wa innailaihi rojiuun..

21 orang meninggal dalam pembagian zakat di Pasuruan.. ini adalah salah satu potret buram kemiskinan di Indonesia. Entah sampai kapan ini akan terus terjadi, dan entah siapa yang harus disalahkan. Seorang dermawan yang berniat baik namun kurang mempersiapkan kegiatannya, ataukan orang-orang kelaparan yang takut tidak kebagian jatah..
Saya sendiri hanya merasa miris.. melihat mereka begitu bernapsu memperebutkan uang yang bagi saya, hanya cukup untuk makan 1 hari bahkan 1 kali. Sungguh.. lagi-lagi saya ditampar oleh sebuah peristiwa, saya tidak menyadari.. saya amat sangat lebih beruntung dari pada mereka.. Lain kali, saya rasa niat baik harus diikuti dengan cara yang baik pula.. Kalau tidak lewat amil zakat, saya rasa di bagikan langsung ke rumah-rumah bisa jadi alternatif yang lebih baik dari pada terkonsentrasi pada satu titik.

Masalah kemiskinan di negara tercinta ini sudah sedemikian sulitnya untuk di atasi. Apalagi sekarang, kemiskinan menjadi sebuah budaya. Ditengah keprihatinan masyarakat yang benar-benar kurang beruntung ada saja pihak yang mengambil keuntungan dari sebuah 'kemiskinan'. Saya sempat prihatin melihat beberapa tayangan televisi akhir-akhir ini yang pada akhirnya sangat merugikan masyarakat kurang mampu. Catat saja industri makanan basi limbah hotel yang dijual murah dengan sekmen pasar masyarakat kurang mampu. Industri ini sudah berjalan selama 5 tahun dan masih laku sampai produsennya di tangkap kemarin. Bayangkan.. ada produksi berarti ada permintaan. Orang-orang yang kurang mampu tentu saja kurang memperhatikan itu. Mereka sering kali berpikir, asal kenyang. Tidak salah memang.. saya hanya geram melihat ada orang yang memanfaatkan keadaan seperti itu.
Bukan hanya itu, kemiskinan juga sering kali dijadikan bisnis. Beberapa waktu lalu saya melihat sebuah tayangan yang mengulas para gelandangan dan pengemis palsu. Mereka membuat dirinya seolah-olah buntung, seolah-olah sakit, atau seolah-olah korengan agar mendapatkan belas kasih. Entah bagaimana perasaan saya waktu itu.. tayangan ini bisa saja membuat orang yang benar-benar membutuhkan jadi tidak dipandang lagi karena dianggap bohong.
Entahlah.. saya rasa tidak ada yang salah dengan kemiskinan ataupun dilahirkan miskin. Satu hal yang saya rasa penting.. jangan sampai kita menyerah dengan keadaan itu.. kita tidak akan pernah lebih baik jika kita tidak berusaha menjadi baik..

Speachless.. karena sampai saat ini pun saya belom bisa berbuat apa-apa..

Tidak ada komentar: